Ahmad Djuhara: Setiap Proyek Harus Dirancang Arsitek, Baru Ditenderkan

untitled-1

Dibanding negara lain, infrastruktur, ruang dan fasilitas publik di negara kita terbilang buruk. Semuanya dibangun begitu saja tanpa didahului dengan rancangan arsitektur yang baik. Jalan raya misalnya, dibangun tanpa memikirkan keterkaitannya dengan pedestrian dan/atau saluran, sehingga tidak aman dan nyaman dilalui. Taman ditata sekedar cantik, bukan dalam upaya menyediakan ruang yang menyenangkan bagi orang banyak. Bangunan sekolah, juga meja-kursi-lemarinya, sejak dulu begitu-begitu saja desainnya seakan dunia tidak berubah. Sementara gedung-gedung dikembangkan tanpa mempedulikan keterhubungannya satu sama lain dan aksesnya bagi pejalan kaki. “Kanopinya di depan buat (orang ber)-mobil, para dewa, pemilik bangunan dan pejabat, bukan untuk orang jalan (kaki),” kata Ahmad Djuhara (50), Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Nasional 2015–2018. Kenapa bisa demikian? Juju, panggilan akrabnya, menjelaskannya kepada Halimatussadiyah, Andrian Saputri, dan fotografer Susilo Waluyo dari HousingEstate yang menemuinya di sebuah kafe di bilangan Senayan, Jakarta, akhir Agustus lalu. Penjelasan pendiri konsultan arsitektur Djuhara+Djuhara (Ciputat, Tangerang Selatan) itu dikaitkan juga dengan upaya IAI menggolkan RUU Jasa Arsitek yang akan memastikan marwah dan posisi arsitek dalam perancangan ruang dan bangunan publik. Selama wawancara ia didampingi Imelda Akmal, Ketua Badan Sistem Informasi & Humas IAI Nasional 2015-2018 yang juga dikenal sebagai penulis arsitektur.

Bagaimana Anda melihat perkembangan arsitektur di Indonesia saat ini?

Sudah jauh lebih baik dibandingkan dekade lalu, sudah banyak orang yang mau membayar desain (arsitek). Sebelumnya banyak yang belum mengerti desain, belum ngerti nilai tambahnya. Jadi, bayar jasa kontraktor mau, jasa arsitek ngapain? Kamu (arsitek) kan cuma jual gambar. Bisnis coffee shop (misalnya), sudah mulai adu bagus desain, karena space terbaik yang dijual, bukan hanya servis dan rasa. Tapi, di level kota memang belum banyak yang paham kalau kita perlu ruang kota yang baik, bahkan di pemerintahan. Misalnya, jalan raya yang mendesain kontraktor, bukan arsitek seperti di negara lain. Jalur pedestriannya digambar, jadi semuanya ketemu dan selesai dengan benar. Di sini, aspal berhenti dimana (pedestriannya kemana), berantakan.

 

Baca selengkapnya di Majalah HousingEstate Edisi November 2016, dapatkan di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer) atau Unduh versi digitalnya WayangForce & Scoop.


Leave a Reply